Tampilkan postingan dengan label Gigs Report. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gigs Report. Tampilkan semua postingan

7 Desember 2010

Farewell To Our Home Robohkan The Pub Cafe!

Dahsyat!!! Mungkin itu kalimat yang patut diucapkan untuk mengambarkan acara Mosh pit yang bertajuk “Farewell To Our Home”. Acara kali ini merupakan pesta terakhir Mosh pit di The Pub Cafe, Kemang. Menurut Pima, salah satu dedengkotnya Mosh pit, acara Farewell ini sebagai apresiasi terhadap venue yang membesarkan kembali scene underground Jakarta karena tempat ini akan segera dibongkar dan dijadikan gedung perkantoran. Jadi, nama the Pub/Prost akan menjadi bagian dari sejarah scene underground Jakarta.
Kali ini Mosh pit tidak ragu memanjakan telinga para metalheads dengan band-band yang telah terbukti kesadisannya. Sebut saja Flag of Hate, Ababil, Gefahr, Kelelawar Malam, Lucretia, Meduza, Zi Factor, Supersucks, Arrrghhh dan Siksa Kubur menjadi hidangan untuk crowd yang hadir pada malam itu.

Flag of Hate membuka perhelatan yang digelar pada 4 Desember 2010, dengan lagu mereka sendiri di antaranya “Eternal Madness” dan satu lagu Nightwish. Setelah Flag of Hate, giliran Ababil tampil dengan “Oblivious to Evil”, “Sacrificial”, “Suicide” dari Decide yang memburai isi telinga penonton, kemudian  disusul oleh penampilan Gefahr.

Semakin malam crowd semakin penuh memadati ruangan The Pub, lampu pun mulai meredup kembali ketika band selanjutnya akan meneriakkan isi hati mereka. Taburan bunga melati berserakan di depan stage,  ada apa ini? Ternyata begitulah ritual Kelelawar Malam sesaat sebelum mereka tampil, band yang menamakan genre-nya horror rock ini berhasil menghipnotis penonton dengan lirik-lirik lagu mereka yang unik.

Selanjutnya adalah penampilan dari band yang namanya ada di salah satu judul lagu Megadeth, Lucretia. Biasanya tiga sampai empat hits Megadeth yang mereka bawakan,  namun mengapa kali ini Lucretia hanya membawakan dua lagu Megadeth saja? “Lagi nggak siap maen karena agus drummer kami nggak bisa, makanya dibantu fe (drummer Dirty Edge),  dan makanya setlist beda dari biasanya, minim Megadeth”, ungkap Nino (gitar). Pada kesempatan malam itu Lucretia menyajikan nomor nomor “Be All End All” (Anthrax) “Antisocial” (Anthrax), “In God We Trust” (Stryper), “A Tout Le Monde” (Megadeth), “Train Of Consequences” (Megadeth) dan satu lagu Lucretia sendiri “Hitam” .

Meduza menghidangkan para crowd dengan nomor-nomor dari Kreator, yakni “When The Sun Burns Red”, “Some Pain Will Last”, “Don’t trust”, “Betrayer”, dan “Extreme Aggresion””.  Selanjutnya giliran Zi Factor yang menuntun crowd untuk headbang lewat nomor-nomor “Eclips”, “Bangsat”, “Kill Paradigm”, “74:30”, “Sakti” dan “Cancer”.

Saatnya untuk berdisco!!! Band industrial rock yang satu ini sudah melengkapi amunisi mereka untuk mengajak penonton bergoyang lewat hits-hits “Ich Bin Uber Alles” (Hanzel Und Gretyl), “Burn Burn Burn”, “Sampaiku mati”, “Unbelievable”(EMF), “Du Hast” (Rammstein), dilanjutkan oleh penampilan Arrrghhh yang kembali membakar suasana.

Siksa Kubur didaulat sebagai penutup rangkaian pesta yang digelar Mosh pit di The Pub Cafe itu. Band death metal yang berdiri sejak 1996 ini memang tidak diragukan lagi kedahsyatannya meskipun sempat bongkar pasang personel. Lewat nomor “Anak Lelaki Dan Serigala”, “Metafora”, “Menanduk Melawan Tunduk”, “Neraka Setara Mata”, “Kata Sebagai Senjata”, “Destitusi Menuju Mati”, Siksa Kubur berhasil menyiksa telinga para crowd dengan sayatan riff-riff tajam dari Andre Tiranida (gitar).

THE 33RD JAZZ GOES TO CAMPUS

Perhelatan megah Jakarta Jazz Go To Campus ke-33 yang digelar di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) pada Minggu (28/11) kemarin mengusung tema Unleash The Jazz Within. Makna dari tema tersebut adalah ingin melepaskan jiwa jazz dari dalam diri semua penikmat jazz, baik yang mengenal jazz sejak lama maupun yang baru mulai mendengarkannya.


Meski hujan sempat mengguyur daerah Depok, namun tidak menyurutkan para penikmat musik jazz untuk tetap menghadiri hajatan akbar JGTC tersebut. Stage dibagi berdasarkan warna musik yang berbeda. BCA Stage, untuk music jazz yang beraliran punk, di sini kita bisa melihat penampilan dari Tokyo Blue (Malaysia), Andien, Berry Likumahua & Project, dll. Mandiri Stage untuk jazz yang beraliran etnik, kita bisa menyaksikan The Groove, Mawar Merah Tribute To Slank, Maliq & d’Essential, dll. Save A Teen Stage untuk jazz yang beraliran akustik, kita bisa menyaksikan penampilan Andre Harihandoyo & Sonic People, Endah N Resha, Sketsa, dll. JGTC Lounge untuk jazz yang beraliran swing, kita bisa menyaksikan penampilan Ade Irawan Feat. Komunitas Jazz Kemayoran (KJK), Suddenly September, Nita Aartsen Feat. Anda Bunga.

Tokyo Blue yang diawaki oleh Hiroaki Maekawa (bas), Ywenna Carollin (kibord), dan Joshua Maran (drum) tampil di BCA Stage. Band perpaduan Indonesia, Malaysia dan Jepang ini mampu menghipnotis crowd dengan aksi panggung mereka dan disambut riuh tepuk tangan penonton. Mereka juga tertarik untuk tampil di JGTC pada tahun mendatang.

Tidak hanya saat Tokyo Blue tampil, ribuan pecinta jazz  juga membludak di areal Mandiri Stage. Saat The Groove tampil, penonton yang notabene didominasi oleh kaum hawa langsung menjerit histeris menyaksikan band pujaannya. The Groove tampil membawakan hits-hits mereka di antaranya “Sepi”, “Satu Mimpiku”, “Reunion”. Performer berikutnya adalah Mawar Merah Tribute To Slank, grup vokal wanita yang terdiri dari Kikan (eks. Cokelat), Dira Sugandi dan Astrid ini tampil segar dengan nomor-nomor Slank yang dibawakan dalam nuansa jazz.  Tidak hanya Mandiri Stage yang dipadati penonton, Save a Teen Stage juga diserbu penikmat jazz saat Endah N Resha tampil.

Konsep JGTC pada tahun ini lebih dipersepsikan untuk para anak-anak muda yang menilai musik Jazz terlalu terlihat ekslusif.  Pada penghujung malam perhelatan akbar ini ditutup oleh penampilan Barry Likumahuwa Project, Maliq & d’Essential, Nita Aartsen Feat. Anda Bunga pada stage yang berbeda.

Jazz Goes To Campus pertama kali digagas oleh Chandra Darusman yang juga mahasiswa FEUI pada tahun 1978. Pada mulanya JGTC digelar di Taman 02 FEUI Salemba, Jakarta dengan fasilitas seadanya. Saat ini JGTC didaulat sebagai event jazz tertua di Indonesia.[Foto : Anjas Hermawan]

28 November 2010

MALAM KEAKRABAN BLOOD OF HEROES

MOSHPIT pada Sabtu 27 Nopember dalam rangka memperingati Hari Pahlawan. Kali ini tokoh yang diangkat sebagai pahlawan adalah salah satu sosok yang memperjuangkan Hak Asasi Manusia (HAM), Munir. Sekitar pukul 21.00 acara dibuka oleh penampilan D’Kontras yang menghangatkan suasana setelah diguyur hujan dengan nomor-nomor dari band rock ‘n roll asal  Inggris, The Rolling Stones diantaranya “Hongky Tonk Woman”, “Satisfaction (I Can’t Get no). Crowd yang hadir memang tidak seramai acara MOSHPIT sebelumnya (Hell A Win -red), namun pada crowd kali ini sangat terlihat akrab dengan para performer untuk ikut bernyanyi.

Setelah D’Kontras tampil, kini giliran Trash Metal United yang menaikkan tensi darah para penonton. Sesuai dengan namanya Thrash Metal United merupakan gabungan personel dari beberapa band thrash metal lokal, yakni Arie Yuandi Fajar (Ritual Doom/vokal), Nino Aditya (Lucretia/gitar), Ucok Tampubolon (Divine/gitar), Andi Jaka (Supersucks/bas) dan Ucok Tambunan (Alien Scream/drum). Kurang lebih 30 menit Thrash Metal memprovokasi crowd dengan nomor Future World (Helloween), Aces High (Iron Maiden), The Troopers (Iron Maiden) dan People of the Lie (Kreator). Pada nomor Territory (Sepultura) posisi gitar yang sebelumnya dipegang Nino (Lucretia) diambil alih istrinya sendiri, Pima (Toxic), dan pada lagu terakhir Thrash Metal United membawakan Desperate Cry (Sepultura).
Performer berikutnya adalah Inlander, band yang diawaki oleh Bani (vokal), Radhitya Bhakti Soerjo (gitar), Tomio Mio (bas) dan Chuck Flow (drum) ini memanjakan telinga penonton dengan sayatan distorsi beratnya. Setelah Inlander, giliran Social Black Yelling yang menggempur suasana The Pub dengan hits-hits mereka dan ditambah dengan Angel Of Death dari Slayer. Kedua band tersebut pada tahun depan rencananya akan merilis album.

Selanjutnya adalah Gigantor yang didaulat untuk menghukum para crowd dengan nomor-nomor “Army of Darkness”, “Wasted Throne”, “Mouth for War” (Pantera) , “Gigantor” , “Cowboys from Hell” (Pantera), “Iron Fist” (Motorhead). Dilanjutkan dengan penampilan band death metal kawakan, Ritual Doom lewat hits-hits “Fresh Blood”, “Ritual Ceremony” yang dibawakan bersama Bani Inlander (Eks. Ritual Doom –red), “Darkness Rising”, “Cannibals Festivity” yang membakar suasana The Pub Cafe. Meskipun Vivi (gitar) terlihat mabuk berat namun penampilan mereka tetap terlihat nyaris sempurna.

Malam itu memang terlihat akrab, para performer yang tampil terlihat sangat nyaman dengan suasana yang Moshpit sajikan. “Gue gak bisa ngejelasin secara obyektif, yang pasti suasana di acara kemaren itu sangat akrab, band yang main pun seperti tampil di rumah sendiri” ungkap Vivi (Ritual Doom) saat ditanyakan pendapat tentang acara Blood of Heroes. 

Pesta kali ini ditutup oleh penampilan band nu-metal, Stupidnation dengan nomor-nomor “Slaves Of Suggestion”, “Bumi”, dan “Last Breath”. Band yang digawangi oleh Yendi (vokal), Cheri (drum), Anubis (gitar) , dan Bagol (bas) ini biasanya tampil mengenakan topeng atau make-up, namun kali ini mereka tampil unmasked.

1 November 2010

“HELL ALL WIN” PESTA REUNIAN METALHEADS

Sebuah perhelatan musik bertajuk “Hell All Win” yang digelar MOSH PIT Underground Music Dance FLoor pada Sabtu (30/10) di The Pub Cafe bilangan  Kemang Raya, Jakarta Selatan mencatat 10 band penampil pada rundown acara; Divine, 686, Lucretia, Oracle, The Edge, Dirty Edge, Meduza, Antiseptic, Akhir, Supersucks. Tepat pukul 20.15 acara dimulai, para metalheads langsung merapat memadati ruangan The Pub yang terbilang sempit. Divine yang didaulat sebagai band pembuka sekaligus untuk mengenalkan vokalis baru mereka, tampil cadas dengan sayatan gitar sadis Ucok Tampubolon dalam membawakan nomor dari Slayer “Angel of Death”. Tak lama kemudian 686 menghajar dengan nomor “Spirit in Black” (Slayer), “Motorbreath” (Metallica), “Surf Nicaragua” (Sacred Reich) dan ditutup dengan “Raining Blood” juga dari Slayer bersama Rizky Gigantor. Selanjutnya giliran Lucretia yang memprovokasi crowd untuk merapat dan ikut bernyanyi dengan hits-hits beringas dari Megadeth. “Hangar 18”, “Tornado Of Souls”  dilanjutkan dengan lagu dari Lucretia, “Queen of Sorrow”, “Revolusi”. Kemudian Nino (gitar) mengajak Andi Supersucks naik ke atas stage untuk membawakan dua nomor dari Megadeth lagi,  “She Wolf”, “Holy War” dan diakhiri dengan “Hitam” dari Lucretia. Malam itu Lucretia juga reuni dengan mantan drummer mereka, Agus.


Perfomer berikutnya adalah Oracle, band yang digawangi Troy (vokal), Wisnu (gitar), Jimmy (gitar), Bayu (bas), dan Mahendra (drum) ini tak kalah cadas dari band-band sebelumnya dengan membawakan “Nice Dreams” (Powermad), “Alice In Hell” (Annihilator), “Battery” (Metallica) dan “Over The Wall” (Testament) bareng Rizky Gigantor. Suasana sejenak mencair ketika The Edge tampil membawakan nomor-nomor dari U2, namun para crowd tetap ikut bernyanyi. Malam itu juga merupakan malam reuni untuk The Edge dengan original member mereka, seperti Ungki (vokal) yang kini menjadi vokalis Raptor, Budi (gitar), Ari (bas) dan Ade (drum).

Setelah hampir 30 menit The Edge tampil dan mencairkan suasana, kini tiba saatnya band hardcore Dirty Edge yang kembali membakar suasana The Pub Cafe dengan nomor-nomor ganas yang mereka sajikan yang kemudian dilanjutkan dengan penampilan Meduza yang salah satunya dimotori oleh Ucok Alien Scream menghidangkan full covering nomor-nomor dari Kreator.

Semakin malam crowd makin banyak berdatangan memadatai ruang sesak The Pub Cafe untuk menyaksikan penampilan band-band cadas yang sudah tidak diragukan lagi. Nino (Lucretia) salah satu perwakilan dari yang punya hajat mengungkapkan, “Acara ini ibarat kata pesta reunian lagi. Akhirnya high gain musik kembali ke sini, dulu waktu namanya Prost Beer itu venue yang asik, tapi akhirnya menolak high gain, dan ini pertama kalinya lagi. Makanya rame, yang dateng juga muke-muke  jadul yang familiar. Bukan cuman jadul era prost, tapi juga jadul era 90-an”, ungkapnya sambil terbahak.

Kini tiba Antiseptic memaksimalkan high gain pada malam itu dengan  distorsi ala hardcore punk. Band yang terbentuk sejak tahun 90-an ini memang dahsyat, lewat nomor-nomor yang terdapat di album mereka,  crowd yang hadir seketika makin merapat untuk begoyang pogo dan moshing. Akhir bukan berarti pesta berakhir, band metal yang satu ini terlihat memang gahar dengan formasinya yang hanya digawangi oleh 3 orang, Cabikan Jeff sang gitaris yang variatif seakan membakar suasana malam yang makin tenggelam.
Penantian panjang akhirnya terobati, Supersucks naik ke atas stage dengan dandanan ciri khas mereka dan membius para crowd untuk kembali merapat. “Ini baru malam Halloween,” ujar Pima yang kebetulan saat itu menjadi MC.  Band yang dimotori oleh Rino ‘Jonges’ (vokal), Andi Jaka (bas), Yandri (gitar), Ande (synthesizer) dan Hafiz (drum) ini memang berbeda dengan band-band metal yang tampil sebelumnya, mereka menggunakan synthesizer dalam racikan musiknya, terdengar sangat unik. Dengan lima nomor lagu-lagu mereka,  Supersucks sekaligus menutup pesta reunian para metalheads. 

Acara perdana MOSH PIT Underground Music Dance Floor ini bisa terbilang cukup sukses, di sinilah para pemusik bawah tanah bisa meneriakkan jeritan isi hatinya. “Intinya gue bertiga (Nino, Pima dan Ucok Alien Scream)  amat sangat bersyukur ke semua yang dateng termasuk LT!E sampe 3 orang yang dateng sampe acara habis. Malah ada media dadakan yang gue gak tau dari mana, tanggal 30 itu amat sangat di luar expektasi gue bertiga,” ungkap Nino (Lucretia).

25 Oktober 2010

Happy Our Music 1st Chapter

“Happy Our Music 1st Chapter”, itulah tajuk acara yang digelar Likethis! Entertainment (LT!E) di Mario’s Place Cafe, Jakarta Pusat pada Minggu (17/10). Acara ini terbilang “sadis” aturan mainnya, yakni band yang belum hadir 30 menit sebelum acara dimulai akan dicoret. Tentu saja hal tersebut bukan untuk mengekang band indie, melainkan untuk mendisiplinkan pola waktu anak-anak band yang terbiasa molor, dan hasilnya acara berjalan lancar sesuai rundown yang ada. Tercatat 8 band yang tampil pada acara ini, yaitu Barrak 3, Mouse in the Bottle,  Satelectronic, Letterbomb, Bad Stereo, Spolenk, Bloody Panties, dan Zi Factor.

Acara dibuka oleh penampilan Barrack 3. Para generasi cilik yang berani menunjukkan kreativitas mereka lewat Kiki (vokal), Sultan (drum), Kukuh (bas), dan Reza (gitar). Walaupun masih terbilang belia, mereka mampu  bersanding dengan para pemusik senior lainnya.  “Jangan Pacaran Dulu”, “Tinggalkan Aku Mama”, dan “Jendral Sudirman”  adalah nomor-nomor yang mereka  mainkan.  Alunan distorsi gitar Reza   dengan berani menghasilkan beat-beat cadas dengan balutan karakter vokal kiki yang unik.

Selanjutnya panggung digebrak oleh penampilan  Mouse in the Bottle. Band ber-genre rock n roll ini menghajar dengan hits-hits mereka seperti “Hentakkan Musik Rock n Roll”, “Fallin Star”, dan “Rock Revolution”.  Mereka tidak pernah takut memasuki pasar musik Indonesia yang saat ini didominasi oleh Pop Melayu, mereka bahkan berencana merilis EP pada Januari 2011. “Gue gak pernah takut untuk bersaing dengan pasar musik saat ini, yang jelas kami ingin kebebasan dalam bermusik,” ujar Andru (drum).

Kemudian Satelectronic, sesuai dengan namanya mereka mengusung genre electronic rap. Namun sayang mereka tidak tampil maksimal karena laptop yang mereka gunakan sebagai media pada saat itu rusak, pada akhirnya mereka tampil lipsink. Selanjutnya Letterbomb yang mengingatkan kita pada Sex Pistols menggaungkan punk en roll era 70an. Band yang dimotori Def (vokal), Adhim (gitar), Irdham (bas), dan Loex (drum) ini baru saja menyelesaikan proyek mini albumnya, dan kali ini mereka membawakan nomor-nomor yang tak terdengar asing lagi, “Punk n Roll Star”, “Pretty Vacant” dan “God Save the Queen”  dari Sex Pistols,  yang lagi-lagi disajikan Def bareng Abur Rocker.

Bad Stereo seakan tak mau kalah dengan band-band sebelumnya, hentakkan rock n’ roll kembali bergema ketika mereka membawakan lagu-lagu yang diambil dari mini album mereka, “Rock n Roll All Night”, “Lonely Bitch”, dan “Theater of Rock n’ roll” menjadi hidangan bagi crowd yang datang.

Selanjutnya, siapa yang tak kenal dengan band heavy metal kawakan yang satu ini, Spolenk. Kali ini mereka tampil mengejutkan, Dhanny Kakang (vokalis Joni Kemon) yang awalnya berniat menonton acara tiba-tiba diajak naik ke atas stage untuk menggantikan vokalis Spolenk yang kali itu berhalangan hadir. Dengan gaya khasnya, Dhanny Kakang dan Spolenk membawakan hits-hits dari Spolenk seperti “Tegar”, “Sesaat” dan “Nol”.

Semakin sore suasana semakin beringas. Setelah dihajar 6 band crowd semakin memenuhi area Mario’s Place. Kali ini giliran Bloody Panties yang memburai isi telinga pengujung dengan suara nge-growl Jessica (vokal) dan Ardian (vokal). Penonton seakan terhipnotis dengan distorsi berat ala metalcore yang mengasilkan nomor-nomor “Sadness of My Broken Toys”, “Ignore Your Pregant” dan “Dogs Can Beard” dari The Devil Wears Prada.

Tak lama Zi Factor pun mendapat giliran. Band ber-genre modern metal yang digawangi Ezra (gitar), Eddy (gitar), Oleg (bas), Bopaq (vokal), Tyo (vokal) dan Adanz (drum) ini tampil nyaris sempurna kala didaulat menjadi penutup pesta di akhir pekan itu. Mereka tampil membawakan hits-hits dari album mereka seperti, “Bangsat”, “Kill Paradigm”, “Eclips”, “74 : 30”, dan “Cancer”.

27 Juli 2010

6th Anniversary of Indonesian Subculture

Persetan dengan cuaca panas dan kemacetan di sekitar Jl. Veteran Bintaro – Jaksel pada minggu (25/07) kemarin, gerombolan orang bertato tetap datang berbondong-bondong untuk  menghadiri pesta ulang tahun Indonesian Subculture yang ke-6 tahun. Carburator Spring bagaikan lautan hitam pada hari itu, namun suasana keakraban dan kekeluargaan tetap melekat pada crowd yang hadir.


Seperti biasa jam karet selalu menjadi tradisi, acara yang harusnya mulai pukul 13.00 kini molor hampir 1 jam, tetapi acara terus berlangsung hingga selesai. Acara ini tidak hanya menampilkan Body Art Fest saja, melainkan di meriahkan juga oleh band-band cadas ibu kota. Sebut saja Ragamufin band yang menjadi pembuka acara pada saat itu, mereka tampil membawakan nomor-nomor lagu yang enerjik dan padat akan distorsi. Selanjutnya adalah penampilan dari Mukarusak yang tampil dahsyat, pada lagu kedua Mukarusak mendedikasikan lagu mereka untuk kasus pornografi para selebriti tanah air khususnya Ariel dan Luna Maya. You rock guys !!!

Performer selanjutnya adalah Balistik, band hip-metal yang katanya baru berumur 2 bulan ini mampu menghasilkan musik yang menusukkan telinga. Setelah menunggu hampir setengah jam, kini tiba saatnya Lucretia membius para penonton dengan nomor-nomor lagu Megadeth yang ampuh. “Hangar 18”, “In My Darkest Hour”, “Symphony of Destruction”, “Tornado of Souls”, “Holy war” disambut dengan kepalan tangan para crowd di udara, namun tidak berakhir begitu saja, di lagu yang terakhirnya Lucretia meluapkan amarah penonton dengan 1 nomor lagu dari Anthrax “Antisocial”. Selepas maghrib  Speedkill, Citizen Useless, dan Supersuck yang mendemontrasikan racikan cadas genre mereka dengan keganasan yang memekakkan telinga

30 Juni 2010

Acara Gratisan Bukan Berarti Murahan!

More Than Groovy and Loudness yang menjadi tajuk acara pada selasa 29 Juni 2010 yang bertempat di Mario’s Place Café dibilangan Cikini, Jakarta Pusat. Gabungan dua komunitas  antara Likethis! Entertainment dan Komunitas Jazz Kemayoran (KJK) dengan membuat konsep acara yang menarik yaitu memadukan dua genre musik yang berbeda antara rock dan jazz serta memberikan awards kepada orang-orang yang berjasa dalam bidang music, alhasil acara ini menyedot crowd yang penasaran untuk hadir pada malam itu.

Tepat pukul 19.30 acara dimulai dengan Introduction dari Beben Jazz, pendiri Komunitas Jazz Kemayoran. Hampir 10 menit dya hadir memberikan wejangan seputar musik, selanjutnya Beben Jazz & Friends tampil membawakan hits-hits yang soft dan ear cathcing

Penampil selanjutnya adalah Happy Day, Didi Priyadi (vokal & gitar) memang senang sekali membuat lelucon-lelucon di atas panggung dengan lirik lagu-lagu mereka yang kocak. Dengan mengenakan kostum unik berwarna kuning, mereka tampil dengan membawakan tujuh buah lagu yang berjudul “Mau Kaya”, “Tergila-gila”, “Kebelet”, “O-oh”, “Maksa”, “Om Teroris” dan pada lagu terakhir “Main Musik” , Happy Day berpesan untuk terus semangat dalam bermusik.

Live at Wonderland meng-cooling down suasana Mario’s Place Café pada malam itu, mereka tampil membawakan lagu-lagu jazz yang ciamik, pada lagu terakhirnya mereka membawakan lagu “Mau Dibawa Kemana” dari band Armada yang di aransemen total menjadi jazz. Salute…!

Hari semakin malam tetapi tidak menyurutkan langkah para penggila musik yang penasaran untuk datang ke event ini. Selanjutnya ada special perfoms dari Inna Kamarie, mantan personil grup vokal  Dewi-Dewi ini membawakan lima buah lagu diantaranya “Dancing Dancing”, “Serasa Melayang”, “Bila Ada Kamu”, Rindu Rindu Cintaku”, dan Hujan Gerimis (Benyamin S)

Suasana mulai terasa hening ketika inti dari acara ini dimulai, Beben Jazz, Eet Syahranie dan Anjas Hermawan langsung dipersilahkan untuk memberikan sepatah dua patah kata dan bercerita tentang seseorang yang malam itu berhak mendapatkan awards. Crowd pun semakin penasaran, lalu Beben Jazz langsung berteriak “Andi Julias” dengan lantang memanggil nama orang itu. Ternyata yang berhak mendapatkan awards pada malam itu adalah Andi Julias yang merupakan ketua komunitas Indonesia Progressive Society (IPS). Andi Julias berhak mendapatkan awards karena beliau pernah menjadi music director, penyiar radio dan beliaupun adalah seorang penulis. Suasana haru yang saat itu mungkin dirasakan seorang Andi Julias, ia mengungkapkan ucapan terima kasihnya kepada seluruh panitia acara. “Saya salut dengan komunitas ini, biasanya saya hanya melihat komunitas dengan satu genre saja, misalkan; komunitas deathmetal, komunitas progressive dan komunitas-komunitas lain, tapi malam hari ini saya baru melihat komunitas dengan berbagai genre music, tadi ada jazz, rock, pop, dll, saya berharap komunitas ini jangan hanya satu atau dua event saja, tetapi  harus tetap terus berjalan” ujarnya.

Malam pun mulai memanas dengan penampilan De Abad Bro’s, Arya sang pencabik gitar dengan beringasnya memainkan lick-lick lagu Motley Crue. “Kickstart My Heart”, “Shout at the Devil”, “SOS”,” Dr. Feelgood”, “Home Sweet Home”, “Anarchy in the UK”(versi Motley Crue) menjadi jamuan hangat para rocker yang hadir pada malam itu.

416 juga tak kalah keren dari band-band yang tampil pada malam itu, band yang mengusung genre fusion jazz mampu menghadang penonton yang sedikit-sedikit mulai beranjak pergi. Local Freak band hip-metal yang dimotori oleh Gulie (vocal), Eky (gitar), Indra (gitar), Franky Sadikin (bas) dan Riza (drum) menutup party dengan “Refuse” (Incubus), “Get it Out”, “Mupeng” dan “The Truth”.

Semoga acara gabungan dua komunitas ini bukan yang pertama dan terakhir, tapi terus berlanjut dengan konsep-konsep yang lebih dahsyat lagi. Sukses untuk Likethis! Entertainment dan Komunitas Jazz Kemayoran !

8 Juni 2010

“Burn The Eastern” Membakar Deras Hujan

Foto Dok. Murry
Seperti biasa, rundown yang harusnya mulai pukul 16.00 molor setengah jam sampai pukul 16.30. Di tengah guyuran hujan deras di luar cafe, Figy, band rock asal Bandung dengan style mirip “My Chemical Romance” membuka acara sekaligus menggebrak suasana sepi saat itu. Penampilan selanjutnya adalah Pentatonic Romantic, band yang makin membuat waktu semakin molor lantaran vokalis dan basisnya belum hadir. Akhirnya Beben bersedia mengisi kekosongan dan memberikan sedikit pengetahuan tentang musik jazz dan komunitasnya. Setelah personel Pentatonic Romantic lengkap baru lah mereka tampil dengan membawakan tiga lagu sendiri.

Hujan semakin deras dan membuat rundown makin berantakan, Del’ La Vie yang harusnya tampil di urutan ketiga belum hadir juga. Panitia pun mengatur strategi agar acara terus berjalan, Beben & Friends akhirnya tampil menggantikan Del’ La Vie dengan membawakan lima buah lagu dengan sentuhan jazz yang kental dan yang membuat suasana sejuk

Setelah itu, F.O.D kembali membakar dengan membawakan lagu “Bingung”, “Killing The Soul”, dan “Joni Reman”, disusul dengan penampilan Ein Fuhrer yang cukup memukau lewat aksi vokalisnya, Malik. Band progresif hip rock asal Bogor ini membawakan “Bendera Putih”, “Titik Arah”, dan “Kaboom” yang merupakan hasil karya mereka. Walapun sempat ada trouble dengan cable jack Tmon, sang gitaris, tetapi aksi mereka cukup dahsyat malam itu.

Joni Kemon yang tak kalah agresif dari band-band sebelumnya makin membakar suasana café. Band yang juga berasal dari ‘Kota Hujan’ ini tampil membawakan “Lagu Buat Loe”, “Knockin’ on Heaven’s Door”, “Dunia Rock N Roll”, dan “Balada Anak Kampus”. Selanjutnya adalah Del’ La Vie, dan disusul Vacker Buller yang sama-sama membawakan tiga buah lagu.

Performer selanjutnya adalah Jukebox, band spesialis covering Dream Theater ini membawakan nomor-nomor Dream Theater selama hampir 25 menit… Sadis! Disusul In Memoriam yang tampil tak kalah sadis. Band bergenre comedy horror ini membawakan lagu “Hitam Putih”, “Between The Races”, “Gorilla”, “Raging The Earth”, dan “Come Back to Life” yang merupakan hits dari album mereka.

Penampilan terakhir adalah Letterbomb. Sebelum tampil membawakan lagu-lagunya, Def sang vokalis mengajak para penonton menundukkan kepala sejenak sambil mengirimkan doa untuk rakyat Palestina yang diserang Israel. Setelah itu lagu “Punk n’ roll star” dan “Generation Out of Control” berkumandang membuat penonton maju ke tengah-tengah stage. Pada lagu ketiga, Letterbomb mengajak Joni Kemon dan Abur Rocker untuk tampil membawakan lagu “Anarchy in the UK” (Sex Pistols). Mereka pun menutup pesta dengan “Last Caress” dari Misfits.(*)

5 April 2010

High Voltage Area Meluapkan Distorsi!

Foto Dok. Anjas Hermawan
Setelah menunggu 1 jam di dalam ruangan The Green Café, Kemang akhirnya acara pun dimulai. Marco’s Theory yang menjadi band pembuka malam itu cukup enerjik dengan hentakkan lagu-lagunya dan disusul dengan Oriaz yang membawakan 3 lagu, salah satunya “Fear of Napalm” dari Terrorizer. Tak kalah pula aksi dari Van Java yang membawakan lagu “Enter Sandman” (Metallica) yang dibuat lebih cadas dari aransemen aslinya.

Selanjutnya adalah penampilan band yang bergenre Metalcore dengan vokalis wanita, Madonna of the Rocks. Mereka membawakan lagu “I Love My X”, “Liar’s Pit”, dan “Rebels on the Run” yang berhasil membius penonton yang hadir malam itu. Band yang lainnya seperti Onoskelis, dan Burning Legion juga cukup memukau. Terlebih saat Burning Legion membawakan lagu “Nemesis” (Arch Enemy). Sayang sekali, Demoniac yang seharusnya tampil tidak hadir pada malam itu. Tapi luapan distorsi belum berakhir.

Acara terus berlanjut dengan penampilan dedengkot thrash metal, sebut saja Gigantor, Oracle dan Divine. Gigantor tampil dengan membawakan lagu “The Antichrist” (Slayer), “Wasted Throne”, “Gigantor” , dan seperti biasa, “Hit The Lights” dari Metallica. Tegangan semakin tinggi dengan penampilan Oracle yang membawakan lagu “Bless In Funeral”, “Battery” (Metallica), “KPK”, dan “Death Embryonic Cells” (Sepultura). Berikutnya Divine menutup acara malam itu dengan membawakan lagu “Black Magic” (Slayer), “War Ensemble” (Slayer), “Namaste” (Divine), “Logika Perlahan Mati” (Divine), “Angel of Death” (Slayer)”, dan “Raining Blood” (Slayer).